Saturday, December 7, 2019

Mengenal Kota Saint Petersburg, Tempat Kelahiran Presiden Rusia

Vladimir Push:suasana musim panas di saint petersburg.jpg

St. Petersburg merupakan kota pelabuhan di Laut Baltik dan kota terbesar kedua di Rusia. Kota ini juga merupakan kota kelahiran Presiden Rusia, Vladimir Putin dan juga kota budaya Rusia.
St. Petersburg menjadi kota budaya karena di sinilah letak Historic Centre of Saint Petersburg and Related Groups of Monuments yang oleh UNESCO ditetapkan sebagai World Heritage Site. Saint Petersburg yang juga dikenal sebagai ibu kota Rusia di Utara merupakan kota penting karena juga menjadi lokasi bagi beberapa kantor pemerintahan, sejumlah konsulat negara-negara asing dan organisasi internasional.
Ada yang unik dari kota St. Petersburg di Rusia. Kota ini memiliki musim yang dinamakan White Night. Pada musim ini kita tidak akan melihat malam yang benar-benar gelap. Hal ini terjadi karena fenomena alam mengingat letak St. Petersburg yang dekat dengan Kutub Utara.
Buat kita di Indonesia yang biasa tidur dengan keadaan gelap gulita, pengalaman menikmati malam yang tidak ada bedanya dengan siang ini menjadi sangat menantang dan sekaligus menarik. Sangat menantang karena diperlukan penyesuaian untuk mata kita bisa terpejam ketika langit tidak sepenuhnya gelap, dan menarik karena kapan lagi kita bisa memiliki pengalaman menikmati malam dengan langit terang.
Daniel Enchev:bridges of saint petersburg.jpg
The Palace Bridge saat White Night (Foto: Flickr/Daniel Enchev)
St. Petersburg juga seringkali menjadi tuan rumah penyelenggaraan pertemuan atau konferensi internasional, seperti Saint Petersburg International Economic Forum (SPIEF), forum ekonomi yang serupa dengan World Economic Forum (WEF) yang diadakan setiap tahun pada musim White Night.
Seperti hal-nya WEF, SPIEF biasanya menghadirkan perwakilan pemerintah, pelaku industri dan experts membahas arah dan upaya menghadapi tantangan ekonomi global, sekaligus sebagai Forum bagi Rusia untuk mengedepankan agenda-agenda ekonominya.
Sebagai salah satu pusat ekonomi dan "jendela" ke Eropa, St. Petersburg menjadi tempat bagi kantor-kantor perwakilan diplomatik dan organisasi internasional.
Putin membuka SPIEF.jpg
Presiden Putin secara rutin membuka St. Petersburg International Economic Forum (Foto: Flickr/Russian Direct Investment Fund)
Bagi saya, jika dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Rusia, St. Petersburg terasa lebih Eropa. Mungkin karena arsitektur di St. Petersburg sangat dipengaruhi gaya Eropa, begitu pula dengan budayanya. Jika dilihat dari asal namanya, St. Petersburg semula bernama St. Peter Burch yang terinspirasi dari nama kota di Belanda, Sint-Petersburg.
Meskipun demikian, arsitektur dan budaya di St. Petersburg tetap memiliki nuansa budaya Rusia. Berikut beberapa tempat favorite saya ketika berwisata di St. Petersburg, yaitu:
1. The State Hermitage Museum (The Hermitage)
Hermitage.jpg
The State Hermitage Museum (Foto: pribadi)
Saya menghabiskan tiga hari untuk bisa melihat isi museum terbesar di Rusia dan kedua terbesar di dunia ini. The Hermitage dibangun pada tahun 1764 dan berisi koleksi karya seni dan budaya yang awalnya merupakan koleksi pribadi Catherine the Great.
Bagi penikmat karya seni seperti lukisan, patung, dan jenis karya seni lainnya wajib untuk bisa melihat koleksi museum yang terdiri dari lebih 3 juta koleksi ini.
2. Savior on the Spilled Blood
Savior on Spilled Blood Church.jpg
Savior on the Spilled Blood Church (Foto: pribadi)
Gereja yang menyerupai St. Basil Cathedral di Moskow ini juga dapat dikunjungi ketika berada di Saint Petersburg. Diberi nama Savior on the Spilled Blood karena di sinilah upaya pembunuhan terhadap Tsar Alexander II pada tahun 1881 dilakukan. Gereja ini dirancang oleh arsitek berdarah Skotlandia-Jerman dan dibangun selama hampir 24 tahun.
3. Nevsky Prospect
Spilled Blood Church.jpg
Salah satu sudut Nevsky Prospect (Foto: pribadi)
Sekedar berjalan-jalan di jalan Nevsky Prospect yang merupakan jalan utama di Saint Petersburg buat saya sangat menarik. Di sini kamu bisa melihat kehidupan masyarakat lokal sekaligus menikmati berbelanja, duduk-duduk di cafe/restoran ataupun menikmati bangunan bersejarah di sepanjang jalan.

Melihat Makam Raja Dinasti Silla, Bentuknya Mirip Bukit Teletubbies

Hwangnamdaechong

bisa menjadi salah satu tujuan wisata jika kamu ke Korea Selatan. Dulunya kota yang berada 370 km di tenggara Seoul ini bernama Seorabeol dan menjadi ibu kota kerajaan kuno Silla (57 SM - 935 SM).
ADVERTISEMENT
Dinasti Silla menguasai sekitar dua pertiga Semenanjung Korea pada masa kejayaannya antara abad ke-7 dan ke-9, selama hampir seribu tahun. Kamu bisa melihat sisa-sisa peninggalan dinasti kuno itu ketika mengunjungi kompleks makam Daereungwon. Di sinilah tempat terakhir para raja dan bangsawan Kerajaan Silla.
Kompleks makam Daereungwon
kompleks makam Daereungwon. Foto: Korea Tourism Organization
Ada 23 makam besar yang terletak di sini; yang paling terkenal adalah Cheonmachong dan Hwangnamdaechong. Dalam penggalian daerah itu pada tahun 1970-an, Cheonmachong ditemukan dengan lukisan kuda yang sudah terpasang. Lukisan ini adalah satu-satunya lukisan yang ditemukan dari era Silla.
Kamu juga dapat melihat bagian dalam Cheonmachong. Ada 11.526 sisa peninggalan dan mahkota kerajaan di dalam makam yang menunjukkan gaya hidup mewah raja, termasuk Cheonmado, sebuah karya seni yang dianggap sangat berharga, karena merupakan karya seni pertama Korea yang digali dari makam kuno.
Cheonmachong
Salah satu peninggalan yang ada di Cheonmachong. Foto: Korea Tourism Organization
Objek wisata lain adalah Hwangnamdaechong, makam kuno terbesar. Ini rumah bagi tubuh raja dan ratu yang memiliki lebih dari 30 ribu peninggalan dan aksesoris emas.
Uniknya, makam ratu memiliki aksesori yang lebih mewah. Para peneliti telah menyimpulkan bahwa sang ratu dapat memiliki posisi sosial yang tinggi sebelum menikah. Kamu dapat merasakan budaya kuno Korea 1.500 tahun yang lalu ketika mengunjungi makam-makam ini.
Gundukan makam yang mirip Bukit Teletubbies, memiliki ketinggian 12,7 m dengan diameter 50 m, dan terdiri dari lapisan batuan yang dikumpulkan dari sungai. Di bawah lapisan batu adalah ruang kayu yang panjangnya 6,5 m dan lebar 2,1 m, tingginya mencapai 2,1 m, dengan peti mati kayu di tengahnya.
Hwangnamdaechong
Hwangnamdaechong, makam kuno terbesar di Korea Selatan. Foto: Adhie Ichsan/kumparan
Jika kamu berkunjung ke kompleks makam Daereungwon, jangan sekali-sekali mencoba mendaki gundukan dan selfie di atasnya. Kamu bisa kena hukuman dua tahun penjara atau denda 2 juta won (sekitar Rp 237 juta), karena situs tersebut merupakan peninggalan sejarah yang dilindungi.
Menara Observatorium berusia 1.300 Tahun
Tak jauh dari kompleks makam Daereungwon terdapat Cheomseongdae, menara observatorium astronomi dari abad ke-7. Cheomseongde yang berarti ‘menara pengamat bintang’, merupakan salah satu dari observatori tertua yang masih tersisa di Asia Timur dan mungkin di dunia.
Menara Cheomseongdae
Cheomseongdae, menara observatorium astronomi dari abad ke-7 di Korea Selatan. Foto: Adhie Ichsan/kumparan
Menara observatorium ini dibangun dari tumpukan batu granit dalam bentuk botol. Tingginya sembilan meter dengan lebih dari 300 blok batu besar persegi panjang dengan 27 rangkaian. Jumlah blok melambangkan hari-hari dalam setahun, dan Ratu Seondeok adalah penguasa ke-27 dari kerajaan Silla.
Gyeongju dulunya menjadi pusat budaya, seni, dan sains. Astronomi dan astrologi adalah bagian penting dari kehidupan sehari-hari di Korea kuno, yang mengatur kegiatan seperti pertanian dan memberikan masukan kepada penguasa sebelum mengambil keputusan.
Menara Cheomseongdae
Cheomseongdae, menara observatorium astronomi dari abad ke-7 di Korea Selatan. Foto: Adhie Ichsan/kumparan
Gyeongju juga memiliki komplek kerajaan peninggalan dinasti Silla yang jadi tujuan wisatawan untuk foto-foto. Ada juga Bulguksa yang merupakan salah satu kuil tertua di Korea Selatan.

Uniknya Jal Mahal, Istana di Atas Danau Jaipur

jal mahal.jpeg

“Ternyata ini bangunan yang sering saya lihat di majalah pesawat,” ungkap Eka, salah seorang wisatawan kepada acehkini, akhir Agustus 2019. Saat itu mobil yang kami tumpangi menepi di jalan dekat pinggiran danau. Sesaat kemudian, sesi foto pun mulai dilakukan.

“Saat membaca majalah itu saya selalu penasaran, bangunan apa ini dan bagaimana bentuknya, akhirnya sampai juga kemari,” sambungnya lagi.

Fitur bangunan terlihat berada di air yang tenang. Berwarna kuning pasir, kontras dengan pantulan air berwarna biru. Mengambang kokoh di atas Danau Man Sagar. Namanya Jal Mahal atau istana air. Bentuknya simetris. Dulunya menjadi pondok raja saat berburu.
Terletak di pinggir Kota Jaipur, Kota Bagian Rajasthan, India, danau berbatasan langsung dengan bukit Nahargarh. Bangunan ini sering muncul di majalah-majalah travel dalam pesawat-pesawat yang keluar masuk India. Menjadikannya sebagai salah satu tempat yang wajib dikunjungi di negara itu.
WhatsApp Image 2019-12-03 at 19.12.01.jpeg
Pengunjung di Jal Mahal. Foto: Khiththati/acehkini
Bangunan sendiri di atas air, telah memikat banyak orang. Menjadikannya sebagai salah satu monumen paling sering dibidik lensa di India.Istana Jal Mahal dibangun pada 1750-an atas perintah Maharaja Madho Singh. Fitur yang terlihat dari pinggiran danau adalah lantai teratas dari bangunan. Sedangkan 4 lantai lainnya tersembunyi di bawah air. Arsitekturnya merupakan gabungan bentuk Rajput dan Mughal. Masuk ke dalam istana memang dilarang, namun dari jarak dekat pengunjung bisa menikmatinya dengan menyewa boat atau sekedar bersantai di taman kecil yang tak jauh di seberang danau. WhatsApp Image 2019-12-03 at 19.15.37.jpeg Penampakan istana saat sore di tengah danau. Foto: Khiththati/acehkini Dari awal, tempat ini tidak dimaksudkan untuk menjadi istana yang dapat didatangi oleh banyak orang. Pada periode pemerintahan Maharaja Jai Singh II, beberapa bagian dari bangunan sudah direnovasi dan dipercantik. Beberapa tahun yang lalu istana ini juga kembali direnovasi untuk mempertahankan bentuknya. Jal Mahal dibangun dengan batu pasir merah dengan empat chhatris berbentuk segi delapan di sudut-sudut istana. Saat direnovasi pada abad ke-18, ada 21 pilar cenotaph keluarga kerajaan. Selain itu, Danau Man Sargar juga terbentuk saat pembangunan bendungan yang dilakukan oleh Maharaja Pratap Singh. Waktu terbaik menikmati pemandangan sini adalah menjelang matahari terbenam. Warna cakrawala langit akan terpantul di danau. Saat malam, bentuk Jal Mahal seperti bersinar berwarna keemasan, karena lampu yang menyala di sekeliling bangunan.
Saat berkunjung jangan lupa berpose dengan cantik di dekat danau atau beristirahat sejenak sambil menikmati air kelapa muda dan makanan ringan khas India yang dijual di pinggir-pinggir jalan di sekitarnya. []
WhatsApp Image 2019-12-03 at 19.11.59 (1).jpeg
Danau dibentuk karena pembuatan bendungan. Foto: Khiththati/acehkini
WhatsApp Image 2019-12-03 at 19.12.01 (1).jpeg
Dibangun tahun 1750-an. Foto: Khiththati/acehkini
WhatsApp Image 2019-12-03 at 19.15.39 (1).jpeg
Wisatawan di sekitar danau. Foto: Khiththati/acehkini
WhatsApp Image 2019-12-03 at 19.15.38 (1).jpeg
Penjual kulfi, es krim tradisional India di sekitar danau. Foto: Khiththati/acehkini
WhatsApp Image 2019-12-03 at 19.15.39 (2).jpeg
Penjual kacang-kacangan dicampur lemon, dan cabai di sekitar danau. Foto: Khiththati/acehkini